Kamis, 03 Maret 2011

HP BUTUT, BAU MENYENGAT DAN RASA MALU

Kerumunan kambing-kaming itu sungguh menimbulkan bau menyengat. Terpaksa kututup hidungku. Aneh, bau menyengat ditempa matahari terik yang tepat di atas ubun-ubunku ternyata tidak mengganggu penjualnya dan beberapa orang yang menghampiri. Dalam hati sempat juga ngedumel sih. "Nih orang jualan kambing ngak melihat-lihat tempat apa? Masak jual hewan yang bau itu di dekat kios-kios elektronik. Kenapa nggak sekalian aja jualan di dalam mall?" gerutuku.
Kupercepat langkah kakiku melewati tempat tersebut. Mataku menatap lurus ke depan, tepat ke sebuah kios HP. Memang kios itulah yang menjadi tujuanku ke tempat ini. Kuraba saku celana. Masih tersimpan HP tipe lama yang sudah 5 tahun aku gunakan. Sebenarnya HP-ku ini tidak bermasalah. Masih layak untuk digunakan, baik bertelepon maupun ber-SMS. Tetapi untuk saat ini, HP-ku ini sangatlah membuat diriku tidak PD untuk menggunakannya di tempat umum. Sering saat aku berangkat atau pulang kantor menggunakan angkutan umum menyaksikan beberapa penumpang menggunakan HP terkini, canggih, suara polyphonic, ada radio, MP3 bahkan kamera foto & video. Suaranya merdu sekali saat ada telepon masuk. Bisa lagu klasik ataupun lagu pop yang sedang top. Sering aku ikut melantunkan dalam hati lagu yang kebetulan aku tahu dan seakan ingin agar pemiliknya tidak segera mengangkat telepon tersebut agar aku bisa lebih lama mendengarkan lagu yang sedang digandrungi banyak orang itu.
Sesekali, kulihat para pemilik HP saling bertukar lagu lewat fasilitas bluetooth. HP yang ada di saku celanaku, jangankan fasilitas bluetooth, kamera pun tak ada. Lelucon yang sering dilontarkan kawan-kawan terhadapku adalah "Mau dikirimin lagu bagus nggak? Pakai bluetooth aja, kan HP kamu emang rada "butut" pasti bisa deh........" Seperti biasa, aku hanya bisa nyengir.
Sekarang semua itu akan berubah. Dengan susah payah aku sudah kumpulkan sebagian gajiku untuk menggantikan rasa "malu" dengan "kebanggaan" bertelepon di tempat umum. Tidak sia-sia pengorbananku selama setahun ini. Setidaknya telah terkumpul dana 3 juta untuk mengganti HP lama dengan HP baru. Dengan dana tersebut cukuplah membeli HP canggih.
Belum sampai di depan kios HP yang kutuju, sempat terdengar pertanyaan dari orang yang menghampiri pedagang kambing tadi, "Bang, kambing yang itu harganya berapa?"
" Satu juta, Pak", jawab si pedagang.
"Kok mahal amat sih Bang?"
"Itu yang terbesar Pak, sehat lagi. Sangat pantas untuk qurban !"
"Wah kalau segitu sih, mana sanggup saya beli. Berapa sih hasil dari ngasong Bang!"
O, ternyata orang itu adalah pedagang asongan, ujarku dalam hati.
"Saya cuma ada 650 ribu Bang, boleh ya.........?"
"Wah Pak , kalau segitu sih belum dapat, ongkos angkut ke sininya saja sudah mahal, bagaimana kalau yang putih itu saja" kata si pedagang sambil menunjuk kambing yang lebih kecil.
"Yah, sudahlah. Daripada besok belum tentu terbeli" katanya pasrah "Ini juga dari hasil nabung 3 tahun, Bang".
Seketika aku terkesiap, tiba-tiba rasa malu muncul dan mengalir deras dalam hatiku. Rasa malu ini bahkan melebihi rasa malu saat kawan-kawan mencemooh HP bututku. Kuhentikan langkah kaki ini. Tiba-tiba aku jadi tertarik mendekati hewan yang bau itu. Bayangan HP baru dengan bluetooth perlahan-lahan hilang, berganti dengan bayangan gema takbir saat kambing, domba dan sapi disembelih dengan menyebut asma Allah.
"Terima kasih ya Allah. Kau telah memberikan rasa malu pada hati ini".

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Pengikut

JSS

Koleksi Lagu Oseng